Catatan Kecil Abi Prof. Dr. Abdul Mustaqim Mengikuti Konferensi Internasional Universitas Patani, Thailand

0
11

Pada tanggal 15–20 Januari 2026, Prof. Dr. H. Abdul Mustaqim, MAg—Guru Besar dan Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren LSQ Ar-Rohmah—melakukan lawatan akademik ke luar negeri dalam rangka penguatan jejaring internasional dan kontribusi keilmuan pada level global. Lawatan ini menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan dalam mengembangkan kajian keislaman, khususnya Qur’anic Studies, yang responsif terhadap isu-isu kontemporer dunia.

Dalam perjalanan ini, Prof. Mustaqim didampingi oleh sejumlah kolega dari Fakultas Ushuluddin, yakni Prof. Rabby Habiba Abror, Prof. Shofiyyullah MZ, Prof. Zuhri, Prof. Saifuddin, Dr. Salehuddin, serta Mas Derry. Rombongan memulai agenda akademik di Malaysia, dengan fokus utama melakukan kerja sama akademik dengan beberapa universitas terkemuka, antara lain Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) dan International Islamic University Malaysia (IIUM). Kerja sama ini diarahkan pada pengembangan riset kolaboratif, pertukaran dosen dan mahasiswa, serta penguatan kajian Ushuluddin dan Qur’anic Studies dalam perspektif global.

Setelah menyelesaikan agenda di Malaysia, rombongan melanjutkan perjalanan ke Thailand, tepatnya ke Universitas Patani, untuk menghadiri dan berpartisipasi aktif dalam sebuah Konferensi Internasional yang mempertemukan para akademisi dari berbagai negara dan disiplin ilmu. Dalam konferensi ini, Prof. Dr. Abdul Mustaqim tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga berperan strategis sebagai co-host sekaligus pemakalah, serta terlibat dalam beberapa artikel riset kolaboratif yang berfokus pada pengembangan paradigma tafsir Al-Qur’an.

Dalam forum akademik internasional tersebut, Prof. Mustaqim menyampaikan makalah utama dengan tema:

“Ecological Tafsir Paradigm of the Qur’an: Beyond Anthropocentrism and the Reclamation of the Sacred Cosmos.”

Makalah ini berangkat dari kegelisahan akademik atas krisis ekologi global yang kian mengkhawatirkan dan memunculkan pertanyaan mendasar terkait fondasi etika, teologis, dan epistemologis dalam relasi manusia dengan alam. Prof. Mustaqim mengkritisi kecenderungan antroposentrisme modern yang menempatkan manusia sebagai pusat dan penguasa alam, sehingga melahirkan eksploitasi ekologis yang masif dan berkelanjutan.

Melalui pendekatan analitis-konseptual dan interdisipliner, makalah ini mengintegrasikan kajian tafsir Al-Qur’an, ‘ulūm al-Qur’ān, filsafat lingkungan, maqāṣid al-sharī‘ah, serta etika keberlanjutan (sustainability ethics). Prof. Mustaqim menegaskan bahwa selama ini tafsir ekologis Al-Qur’an sering kali berhenti pada tataran moral normatif, tanpa dirumuskan sebagai paradigma tafsir yang sistematis dan kokoh secara epistemologis.

Dalam paparannya, ia mengembangkan konsep eco-theocentric tafsir, yaitu paradigma tafsir yang menempatkan Allah sebagai pusat nilai dan kosmos (theocentric), manusia sebagai ‘abd dan khalīfah yang terikat secara etis (ethically bounded stewards), serta alam sebagai āyāt kauniyyah—tanda-tanda kosmik yang sakral. Melalui analisis tematik terhadap konsep-konsep kunci Al-Qur’an seperti Rabb al-‘ālamīn, mīzān versus ṭughyān, amānah versus khiyānah, iṣlāḥ versus fasād, serta isrāf versus wasathiyyah, Prof. Mustaqim menunjukkan bahwa Al-Qur’an menawarkan visi kosmik yang menekankan keseimbangan, tanggung jawab, dan kesucian alam.

Dengan mengintegrasikan penalaran maqāṣidī dan etika keberlanjutan, makalah ini berkontribusi untuk melampaui pendekatan tafsir yang sekadar normatif menuju tafsir berbasis paradigma, yang relevan tidak hanya bagi studi Al-Qur’an kontemporer, tetapi juga bagi wacana etika lingkungan global.

Partisipasi Prof. Dr. Abdul Mustaqim dalam konferensi internasional di Universitas Patani ini mempertegas posisi akademisi Indonesia—khususnya dari UIN Sunan Kalijaga dan tradisi pesantren—sebagai aktor penting dalam diskursus keislaman global. Lawatan akademik ini sekaligus menjadi bukti bahwa kajian Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang teks, tetapi juga hadir sebagai respon teologis dan etis atas krisis kemanusiaan dan ekologis dunia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here